Makanan Fast Food vs Slow Food | siapa juaranya?

Front view portrait of young man eating burgerPopHealth - Menjamurnya restoran cepat saji alias Fast Food berdampak pada kesehatan karena turut memicu peningkatan jumlah penderita obesitas.

Untuk menandingi ancaman Fast Food, muncullah gerakan Slow Food dengan berbagai konsep unik yang diklaim lebih menyehatkan. Salah satunya adalah kampanye untuk menggunakan bahan makanan sesuai dengan tradisi yang berlaku di suatu daerah. 

Konsep ini dipakai untuk melawan penyeragaman menu makan pada Fast Food, yang menggiring orang-orang di seluruh dunia agar hanya mengenal burger dan kentang goreng.

Dengan konsep yang ditawarkan Slow Food, keberagaman menu makan termasuk bumbu-bumbu tradisional yang digunakan akan lebih terjaga kelestariannya. Eksistensi sambal terasi misalnya, tidak akan tergeser oleh saus tomat seperti yang digunakan di berbagai restoran Fast Food.

Konsep berikutnya adalah memproses dan mengonsumsi makanan dengan tidak terburu-buru. Mulai dari merajang bumbu-bumbu, menumis lalu merebusnya hingga kemudian menghidangkannya di meja makan semuanya harus benar-benar dinikmati meski memang lebih memakan waktu.

Termasuk dalam proses menyediakan bahan makanan, ternak maupun sayuran dibiarkan tumbuh secara alami. Bahan makanan yang seperti ini sering disebut dengan istilah organik, yang tentunya lebih sehat dibandingkan ‘ayam suntik’ yang digunakan di restoran Fast Food.

Saat menyantap, makanan juga tidak perlu buru-buru ditelan seperti ketika dikejar-kejar waktu di restoran Fast Food. Mengunyah makanan dengan perlahan sampai benar-benar lunak akan memudahkan perut untuk mencernanya lebih lanjut sehingga akan mengurangi risiko obesitas.

Secara umum, konsep Slow Food menawarkan gaya hidup yang jauh lebih sehat dibandingkan Fast Food. Bukan hanya soal makanan, konsep bergerak lambat juga mencakup pola pikir yang lebih rileks dan tidak terburu-buru sehingga pikiran tidak mudah stres.

Gerakan Slow Food sendiri diperkenalkan oleh seorang pria Italia, Carlo Petrini pada tahun 1989. Sejak awal gerakan ini memang dibentuk untuk menandingi merebaknya restoran-restoran Fast Food yang cenderung tidak sehat karena berlemak dan banyak mengandung garam.

Untuk menggambarkan semangatnya yang tidak ingin makan dalam kondisi terburu-buru, Slow Food memiliki logo bergambar siput. Binatang tersebut terkenal dengan gerakannya yang lambat sehingga dinilai bisa mewakili konsep-konsep yang diusung oleh gerakan Slow Food.

Meski lambat untuk urusan makan makan, gerakan Slow Food lumayan gesit dalam melebarkan diri ke berbagai negara. Seperti dikutip dari Slowfood.comSlow Food saat ini telah menjangkau 150 negara dengan 1.300 kantor cabang yang disebut convivia termasuk di Indonesia.

Siapa nanti yang akan jadi juaranya gerakan makan Fast Food atau Slow Food? Untuk saat ini nampaknya Fast Food masih jadi favorit, tapi sesuai dengan motonya yang tidak mau terburu-buru, gerakan makan Slow Food terus membahana di muka bumi.

Kamu sendiri, lebih memilih yang mana? ;)

Salam – Agung RanggaDetikHealth

About these ads

2 responses on “Makanan Fast Food vs Slow Food | siapa juaranya?

Bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s